Rabu, 09 April 2014

Apakah Softdrink dapat menyebabkan Kegemukan

Kegemukan atau obesitas merupakan masalah yang besar pada abad ini. Jumlah kasus obesitas terus meningkat. Berbagai faktor diduga turut menyumbang pada peningkatan angka obesitas di dunia. Selain faktor genetik, pola makan yang kaya kalori dan jarang berolahraga diduga berperan penting dalam peningkatan kasus kegemukan di dunia.

Salah satu bentuk minuman yang digemari saat ini adalah soft drink atau minuman ringan. Soft drink merupakan minuman dengan pemanis yang umum ditemui dimana-mana. Salah satu bentuk soft drink yang biasa ditemui adalah minuman bersoda. Sayangnya soft drink memiliki nilai nutrisi yang rendah. Selain itu, soft drink identik dengan makanan cepat saji berkalori tinggi. Keduanya merupakan bentuk makanan yang dapat menambah risiko kegemukan jika dikonsumsi terus menerus.

Apa yang membuat softdrink berbahaya?

Semakin banyak bukti yang mendukung hubungan peningkatan konsumsi soft drink dengan berbagai penyakit kronis seperti diabetes. Konsumsi fruktosa menyebabkan perkembangan resistensi insulin. Kedua hal ini akan mempercepat perlemakan hati dan diabetes tipe 2.

Faktor risiko kegemukan yang lain

Kegemukan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Terdapat faktor yang dapat dimodifikasi dan ada faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifikasi adalah pola hidup yang termasuk pola makan dan olahraga. Sedangkan salah satu contoh faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah genetik. Namun demikian bukan berarti pasrah karena gemuk dari 'sononya', justru harus disolusikan mengatasi hal tersebut.

Jadi apa hubungan pola hidup, genetik dan kegemukan? Dalam beberapa tahun terakhir, telah di identifikasi berbagai gen dalam tubuh yang bertanggung jawab terhadap kegemukan. Gen kegemukan bukanlah vonis mutlak anda akan menjadi gemuk ataupun menyebabkan kolestrol dan penyakit lainnya. Namun gen ini dikombinasikan dengan faktor pola hidup yang menunjang kegemukan, merupakan dua hal yang memperbesar kemungkinan seseorang menjadi gemuk.


sumber

Rabu, 02 April 2014

Mengendalikan Kadar Kolesterol dalam Darah

Kolesterol merupakan pemicu berbagai gangguan kesehatan, diantaranya hipertensi, gangguan jantung, hingga stroke. Selain itu kolestrol juga merupakan unsur yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun, akan tetapi bila kadarnya berlebihan akan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit.
Untuk anda yang memiliki gangguan metabolisme kolesterol di dalam tubuh, diet dan berolah raga adalah kegiatan yang harus anda lakukan, tidak lupa juga untuk mengkonsumsi obat-obatan yang direkomendasikan oleh dokter.
Dengan demikian, lebih baik mengontrol dan mengendalikan kadar kolesterol agar tetap normal daripada Anda harus mengobati tingginya kadar kolesterol.
Berikut ini langkah-langkahnya:

1. MENGETAHUI KADARKOLESTEROL

Secara umum dokter menyarankan agar kadar kolesterol total Anda di bawah 200 mg/dl, dengan kadar LDL (kolestrol jahat) di bawah angka 130, dan HDL (kolesterol baik) berada di atas angka 40.

2. MENJAGA KESEIMBANGAN BERAT BADAN

Salah satu cara untuk mengendalikan kadar kolesterol dalam darah adalah mengurangi berat badan yang berlebih. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa berat badan yang berlebih dapat mengganggu proses metabolisme tubuh dalam menghancurkan lemak.
Dengan mengkonsumsi sedikit lemak tidak berarti penurunan kadar kolesterol akan segera terlihat. Dalam hal ini Anda perlu mengurangi sekitar 2.5 – 4.5 kilogram berat badan agar bisa memperbaiki kadar kolestrol.

3. AKTIFITAS FISIK RUTIN

Mengendalikan kadar kolesterol juga bisa dilakukan dengan berolah raga secara rutin. Jalan kaki atau jenis-jenis olah raga ringan lainnya yang dilakukan secara rutin akan membantu meningkatkan kadar HDL. Cukup melakukannya dalam waktu 30 menit dalam sehari dan lima hari dalam seminggu.

4. BERKENALAN DENGAN LEMAK BAIK

Jika anda telah di diagnosa memiliki kadar kolesterol tinggi, biasanya Anda disarankan untuk menurunkan konsumsi lemak. dan anda disarankan untuk mengkonsumsi jenis makanan yang mengandung lemak tak jenuh tunggal, seperti selai kacang, avokad, minyak zaitun dan kanola, serta makan berupa kacang-kacangan. Jenis lemak tersebut membantu menurunkan kadar LDL dan Trigliserida dalam darah, serta meningkatn n HDL.

5. MENGONSUMSI MULTIVITAMIN

Walaupun anda sudah menjalankan petunjuk untuk mengonsumsi makanan yang sehat, akan tetapi tetap saja tubuh anda mempunyai kekurangan terhadap nutrisi tertentu . Anda perlu mengonsumsi multivitamin atau suplemen makanan untuk mencukupi kebutuhan dasar nutrisi dan menurunkan resiko penyakit jantung dan stroke. Untuk mengatasi kondisi tersebut
Sebaiknya Anda memilih vitamin yang mengandung asam folat, vitamin B6, dan vitamin B12. Alasannya, ketiganya bermanfaat penting dalam menjaga kesehatan jantung.

6. POLA MAKAN YANG BENAR

Tingkat kolesterol dapat diturunkan dengan mengikuti pola makan yang sehat dan benar. Kurangilah konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan minyak seperti goreng-gorengan, jeroan, bebek, kulit, sosis, hamburger, kepiting, udang, cumi, margarin, mentega, kuning telur, susu berlemak dan keju.
Perbanyaklah mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan serat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan kacang-kacangan karena tidak mengandung kolestrol.

sumber

Senin, 17 Maret 2014

Obat Asam Urat, Diet Rendah Kolesterol


Meninjau keunikan metabolisme tubuh manusia satu sama lainnya, makin beragam pula risiko yang muncul. Ada beberapa tubuh yang rentan akan gejala hipertensi, ada pula yang mudah terancam akan tingginya kolesterol dalam darah yang dapat mengakibatkan penyakit jantung koroner salah satunya.

Langkah untuk melakukan diet rendah kolesterol sebagai obat asam urat biasanya diambil oleh orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi maupun penderita penyakit jantung. Karena pada mekanismenya, kolesterol tinggi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah sehingga mengundang risiko serangan jantung.

Pada pelaku diet ini, cobalah untuk makan dalam porsi yang sedikit namun dengan frekuensi tinggi. Hindarilah makanan yang mengandung lemak jenuh, dimana pada umumnya lemak jenuh terdapat pada daging sapi, kambing, babi, susu full cream atau susu murni, jerohan, mentega, kuning telur, dan keju. Disamping bahaya lemak jenuh pada lemak hewani tersebut, masih terdapat ancaman yang dihindari dari lemak nabati, seperti halnya minyak kacang dan minyak kelapa sawit.

Jadi intinya, kurangi makanan yang melalui proses goreng-gorengan. Jikapun sudah terlanjur mengonsumsi, imbangkan dengan berolahraga. Dengan harapan, lemak jenuh dapat terbakar habis menjadi energi.

Mulai pilihlah makanan yang tinggi karbohidrat atau banyak tepung dan serat seperti roti, beras, gandum. Konsumsi ayam tanpa kulit. untuk kebutuhan nutrisi pada daging, gantilah dengan putih telur. Kurangi pula makanan yang mengandung kaya gula, seperti es krim, cokelat, soft drink, gula-gula, dan lainnya.

Untuk memudahkan diet ini cobalah untuk :
  1. Tidak meletakkan garam di atas meja makan
  2. Pilihlah sayuran yang segar. Makanan yang terdapat di kemasan kaleng banyak mengandung garam. Jika pun mau tidak mau harus mengonsumsi sayuran kaleng maka cuci bersih sayuran dengan air sebelum dikonsumsi untuk mengurangi kandungan garam yang melekat di sayuran tersebut.
  3. Pilihlah buah yang segar, karena umumnya buah-buah yang segar memiliki kandungan rendah natrium namun kaya akan kandungan kalium
  4. Menambahkan rasa di makanan dengan bumbu atau rempah lainnya seperti bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, salam, gula, atau cuka selain garam.
  5. Untuk makanan camilan pilihlah kacang, biskuit, dan makanan camilan lainnya yang tidak mengandung banyak garam.
  6. Hindarilah penggunaan saus tomat, terasi, petis, MSG, tauco pada makanan yang akan Anda konsumsi.

sumber

Selasa, 11 Maret 2014

Mencegah Kolesterol tak hanya mengkonsumsi Bawang Putih saja

Apakah kolesterol yang tetap tinggi kendati sudah pantang menu berkolesterol juga tergolong faktor keturunan? Untuk menurunkan kolesterol, apakah dengan mengkonsumsi hanya bawang putih mentah saja?

Tak Hanya BAWANG PUTIH
Ya, tak cukup hanya bawang putih untuk menurunkan kolesterol dan lemak darah (lipid). Kalau ada bahan berkhasiat lain yang mengaku (mengklaim) dapat menurunkan lipid darah, jangan terlampau berharap karena hanya obat (medis) yang sudah teruji yang mampu menurunkannya.

Bahan berkhasiat bukanlah sebagai obat, melainkan terbatas untuk memelihara kesehatan belaka. Bahan berkhasiat baru menjadi obat bila sudah dikenali kandungannya teruji berkhasiat, telah teruji pula keamanannya.

Perlu uji lebih lanjut terhadap semua bahan berkhasiat yang mengaku mampu menurunkan lipid darah, selain keamanannya pula. Bagi dunia medis, tidak cukup berkhasiat karena jika tak aman (lolos uji toksisitas), tidak boleh dipasarkan sebagai obat. Bawang putih mentah (raw materia) selain bahan yang bermanfaat bagi tubuh, juga mengandung bahan lain yang tidak berkhasiat dan berefek buruk pada tubuh. Sebut saja mengiritasi lambung.

Ekstrak bawang putih hasil teknologi tinggi yang menjadikan kapsul bawang putih berharga mahal. Kita membeli teknologi tinggi yang berhasil mengekstraknya. Soal apakah ekstrak bawang putih itu sudah menyingkirkan zat yang tak bermanfaat dan aman bagi tubuh, juga mampu berperan sebagai obat perlu uji klinis lain.

Untuk mengetahui apakah penyebab kelebihan kolesterol darah bukan karena faktor keturunan, faktor-faktor di atas perlu disingkirkan terlebih dahulu dengan pemeriksaan laboratorium lain, yakni memeriksa fungsi ginjal, hati, dan kelenjar gondok dari darah. Tubuh yang kelebihan kolesterol selain wajib pantang semua jenis menu yang mengandung kolesterol tinggi seperti jeroan, otak ternak, daging merah, juga perlu membatasi hidrat arang dari nasi, sagu, roti, mi. Jika berlebih, menu tersebut akan diubah jadi lemak juga.

Konsumsi sayur, buah, biji-bijian, umbi-umbian, bekatul, roti ganclum, daging putih (ayam, kelinci, ikan, putih telur) boleh diperbanyak. Pilih minyak zaitun, minyak ikan, kanola, oat bran, omega-3. Idealnya pilih menu yang dipanggang, dipepes, atau dikukus.

sumber

Minggu, 02 Maret 2014

Makanan Manis Memiliki Resiko Penyakit Jantung Pada Remaja

Edisi online Circulation pada tanggal 10 Januari 2011, seorang peneliti dari Emory University melaporkan bahwa para remaja yang mengonsumsi makanan dan juga minuman manis menunjukkan tanda-tanda fisik bahwa mereka mempunyai resiko tinggi terkena penyakit jantung saat dewasa nantinya. Lebih lanjut peneliti mengemukakan bahwa di antara 2.157 remaja yang ikut berpatisipasi dalam National Health and Nutrition Examination Survey, jumlah rata-rata dari tambahan gula yang dikonsumsi per harinya adalah 119 gram (476 kalori), dimana 21,4 persen dari keseluruhan kalori dikonsumsi oleh para remaja ini per harinya.

Jean Welsh, pemimpin dari para peneliti dan juga seorang cendikiawan postdoctoral berkata, bahwa kita harus menjaga kadar gula yang kita konsumsi. Kesadaran akan efek negatif dari penambahan gula tersebut dapat membantu orang-orang, terutama remaja, mengurangi jumlah gula yang mereka konsumsi.

Tim peneliti Welsh menemukan bahwa para remaja yang banyak mengonsumsi gula mempunyai 9 persen level kolesterol LDL (kolesterol jahat) lebih tinggi, dan 10 persen level triglyceride (tipe lain dari lemak darah) lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hanya mengonsumsi sedikit gula.

Sementara itu, peneliti juga menemukan bahwa para remaja yang mengonsumsi gula dalam jumlah besar menunjukkan perlawanan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan diabetes dan memiliki resiko yang terkait dengan penyakit jantung.

The American Heart Association telah merekomendasikan batas maksimal yang dapat dikonsumsi, hal ini berdasarkan pada jumlah kalori yang dibutuhkan pada masing-masing individu. Untuk para wanita (termasuk para remaja) dibatasi mengonsumsi gula tidak lebih dari 100 kalori per hari, dan untuk pria kebanyakan, dibatasi untuk mengonsumsi gula tidak lebih dari 150 kalori.

Untuk itu, maka dari sekarang sebaiknya kita mulai memperhatikan resiko penyakit jantung sejak dini saat mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Hal ini dapat menjadi usaha awal untuk mencegah para remaja tumbuh menjadi orang dewasa dengan penyakit diabetes atau penyakit jantung.